Jumat, 02 Januari 2026

Bahtera Nabi Nuh: Kritik Lintas Zaman Atas Arogansi Epistemik


Oleh: Tim Riset IPCE, 2 Januari 2026

Mengapa Nabi Nuh Ditertawakan, dan Mengapa Anaknya Menolak Naik Bahtera?

Al-Qur’an tidak mengabadikan kisah banjir Nuh sebagai drama keluarga atau tragedi kuno. Ia mengabadikannya sebagai cermin epistemik lintas zaman. 

Menariknya, bukan air bah yang pertama kali disorot, melainkan dua sikap manusia terhadap bahtera keselamatan: yang satu menertawakan, yang lain menolak.

Di antara tawa dan penolakan itulah, sebuah peradaban tenggelam.


BAHTERA SEBAGAI ILMU YANG TIDAK DIANGGAP ILMU

Sebelum bahtera menjadi alat keselamatan, ia terlebih dahulu menjadi objek ejekan. Al-Qur’an mencatatnya secara gamblang:

"Dan dia (Nuh) membuat bahtera. Dan setiap kali pemuka kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya. Dia berkata: 'Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami pun akan mengejek kamu sebagaimana kamu mengejek.'"

(QS. Hūd: 38).

Di sini, yang ditertawakan bukan hanya Nabi, tetapi sebuah pengetahuan tentang masa depan yang belum bisa diverifikasi secara empiris.

Inilah kritik epistemiknya: ilmu yang datang dari wahyu sering ditertawakan karena tidak sesuai dengan logika zaman yang sedang berkuasa.

Kaum Nuh tidak bodoh. Mereka hidup di daratan, langit cerah, dan belum ada preseden banjir global. Dari sudut pandang rasionalisme sempit, membangun kapal di darat adalah tindakan absurd. Maka mereka menertawakan.

Dalam bahasa modern, ini adalah epistemic arrogance:

  • Hanya mengakui pengetahuan yang sesuai dengan pengalaman sekarang.
  • Menolak peringatan yang melampaui horizon empiris.
  • Menganggap wahyu sebagai irasional, mitologis, atau tidak ilmiah.


Bukankah ini persis sikap peradaban modern? 

Ketika eskatologi ditertawakan, ketika krisis peradaban diperingatkan lalu dianggap alarmisme, ketika etika profetik dicap penghambat inovasi, maka kita sedang mengulang tawa kaum Nuh dengan istilah akademik yang lebih canggih.

Yang ditertawakan adalah pengetahuan tentang masa depan: pengetahuan yang belum dapat diverifikasi secara empiris, belum memiliki preseden historis, dan belum sesuai dengan pengalaman inderawi saat itu.

Kritik epistemiknya menjadi jelas: ilmu yang datang dari wahyu sering ditolak bukan karena salah, tetapi karena datang terlalu awal bagi nalar zamannya.


ANAK NUH DAN ILUSI KESELAMATAN RASIONAL

Adegan kedua lebih tragis, karena datang dari dalam keluarga Nabi sendiri.

"Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang terpisah: 'Wahai anakku! Naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.' Dia menjawab: 'Aku akan berlindung ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air.' Nuh berkata: 'Tidak ada yang melindungi hari ini dari ketetapan Allah kecuali yang Dia rahmati.'"

(QS. Hūd: 42–43).

Ini adalah momen paling telanjang dari krisis epistemik manusia. Anak Nuh tidak menolak ayahnya karena kebencian, tetapi karena kepercayaan pada solusi rasionalnya sendiri.


Gunung = teknologi;

Ketinggian = keunggulan struktural;

Perhitungan = logika keselamatan.


Tetapi ia lupa satu hal, bahwa krisis peradaban tidak selalu bisa diselamatkan oleh kecerdasan teknis.

Ia percaya pada gunung (teknologi), tetapi melupakan yang menciptakan gunung. Ia mengandalkan ketinggian (keunggulan teknis), tetapi melupakan ketinggian yang hakiki: Rahmat Ilahi.


DUA DOSA EPISTEMIK YANG SAMA

Jika dirangkum, Al-Qur’an sedang mengkritik dua bentuk kesesatan pengetahuan:

Tawa Kaum Nuh → rasionalisme yang menolak wahyu karena belum terbukti empiris;

Penolakan Anak Nuh → rasionalisme yang percaya bahwa solusi teknis cukup tanpa ketaatan transendental.

Yang pertama menolak karena tidak masuk akal. Yang kedua menolak karena merasa sudah cukup berakal.

Inilah dua wajah peradaban modern: menertawakan wahyu, dan menyembah solusi buatan sendiri. 

Keduanya berasal dari akar yang sama: keangkuhan epistemik yang menganggap manusia sebagai ukuran kebenaran tertinggi.


EPISTEMOLOGI PROFETIK SEBAGAI ANTITESIS AROGANSI MODERN

Di sinilah IPCE hadir sebagai kritisisme yang dibutuhkan zaman.

Epistemologi profetik dengan tiga pilar: Kosmologi Profetik, Eskatologi Kritis, dan Epistemologi Pemulihan, yang sering ditertawakan dan ditolak oleh epistemologi modern. 

Mengapa?

Karena epistemologi modern hanya melihat dengan satu mata: mata material-empiris yang buta terhadap makna transenden. Epistemologi profetik mengajak untuk melihat dengan dua mata: mata empiris dan mata makna, mata data dan mata hikmah.

Alasan penolakan epistemologi profetik persis seperti penolakan terhadap Nuh:

  • Kosmologi Profetik ditertawakan karena mengajak melihat alam sebagai ayat, bukan hanya objek.
  • Eskatologi Kritis ditertawakan karena mengingatkan konsekuensi peradaban yang dianggap mitos.
  • Epistemologi Pemulihan ditolak karena menuntut tanggung jawab moral dalam penelitian.

Epistemologi modern seperti anak Nuh: mengira gunung teknologi cukup menyelamatkan, tanpa perlu naik bahtera wahyu dan hikmah.


EPILOG: PELAJARAN YANG MASIH MENGGEMA

Al-Qur’an mengunci narasi ini dengan satu ayat yang sangat epistemik:

"Dan sungguh, telah Kami jadikan (kapal itu) sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?"

(QS. Al-Qamar: 15).

Ayat ini adalah interpelasi langsung kepada setiap zaman. Seolah Al-Qur’an bertanya: kalian sudah melihat tawa, kalian sudah melihat penolakan, kalian sudah melihat akibatnya. Lalu apa yang berubah?

Hari ini bahtera itu bernama etika profetik dalam sains, batas moral dalam teknologi, wahyu sebagai kompas pengetahuan. 

Dan seperti dulu: ada yang menertawakannya sebagai tidak ilmiah, ada yang menolaknya karena merasa punya "gunung" teknologi.


Pertanyaannya tetap sama, menggema lintas abad: Masih adakah kita yang mengambil pelajaran? Ataukah kita sedang mengulang tragedi itu bukan dengan air, tetapi dengan data, algoritma, dan kekuatan yang tak lagi tahu cara berhenti?

IPCE hadir sebagai suara yang mungkin ditertawakan hari ini, tetapi mungkin juga akan dikenang besok sebagai suara yang mencoba menyelamatkan peradaban dari tenggelam dalam keangkuhan pengetahuannya sendiri.

Karena dalam setiap zaman banjir, yang pertama-tama tenggelam bukanlah tubuh manusia, melainkan kesombongan akalnya sendiri. Dan ketika akal sudah tenggelam dalam kesombongan, segalanya yang lain akan menyusul.

Pilihan kita sekarang sederhana: menertawakan bahtera atau menaikinya, mengandalkan gunung atau mengakui bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi dari semua gunung teknologi kita.

والله أعلم

*) Dikutip dari Grup WA UICI

Kamis, 06 Februari 2025

HADITS DAN CERITA ISRAILIYAT: TELAAH KRITIS DALAM STUDI ISLAM

(Sumber: Grup UICI, Penulis MS)

Dalam studi Islam, salah satu topik yang sering diperdebatkan adalah hubungan antara hadits dan cerita Israiliyat. Israiliyat merujuk pada kisah-kisah yang berasal dari tradisi Yahudi dan Kristen yang masuk ke dalam literatur Islam melalui para mualaf dari kalangan Ahli Kitab, seperti Ka’b al-Ahbar dan Wahb bin Munabbih.

Salah satu kritik utama terhadap hadits adalah kemungkinan adanya infiltrasi Israiliyat, terutama dalam hadits-hadits yang berkaitan dengan sejarah para nabi dan eskatologi (akhir zaman).

Diskusi ini semakin kompleks ketika beberapa pemikir modernis menolak hadits eskatologis dengan alasan bahwa isinya terpengaruh oleh mitologi Yahudi-Kristen.

Di sisi lain, ulama seperti Syekh Imran Hosein menggunakan pendekatan berbeda dengan tetap mempertahankan validitas hadits eskatologis, tetapi menolak hadits yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Al-Qur’an, termasuk riwayat pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Aisyah pada usia belia.

Artikel ini akan membahas perbedaan antara hadits dan Israiliyat, kritik terhadap hadits yang diduga mengandung unsur Israiliyat, serta bagaimana Al-Qur’an berfungsi untuk menilai keabsahan hadits dalam hierarki sumber hukum Islam.

Definisi Hadits dan Israiliyat

Hadits adalah segala perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Hadits berfungsi sebagai sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur'an dan diklasifikasikan berdasarkan kualitasnya (shahih, hasan, dha'if, dan maudhu').

Israiliyat adalah cerita-cerita yang berasal dari tradisi Yahudi dan Kristen yang masuk ke dalam khazanah tafsir dan sejarah Islam. Cerita ini sering kali disampaikan oleh para mualaf dari kalangan Yahudi atau Nasrani, seperti Ka'ab al-Ahbar dan Wahb bin Munabbih. Israiliyat dapat bersumber dari kitab-kitab terdahulu atau dari cerita rakyat yang berkembang di kalangan Bani Israil.

Persamaan Hadits dan Israiliyat

1. Memuat Kisah-Kisah Keagamaan

Baik hadits maupun Israiliyat sering mengandung narasi tentang sejarah umat terdahulu, kisah para nabi, dan peristiwa yang berhubungan dengan kehidupan akhirat.

2. Diriwayatkan Secara Lisan

Sebelum dikodifikasikan, baik hadits maupun Israiliyat disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi, memungkinkan adanya tambahan atau pengurangan dalam periwayatan.

3. Bisa Mengandung Hikmah

Beberapa cerita Israiliyat memiliki nilai moral yang dapat diambil sebagai pelajaran, sebagaimana hadits yang mengandung nasihat dan petunjuk hidup.


Perbedaan Hadits dan Israiliyat

1. Sumber:

Hadits berasal langsung dari Nabi Muhammad ﷺ, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun persetujuan beliau. Sementara itu, cerita Israiliyat bersumber dari tradisi Yahudi dan Kristen yang berkembang di kalangan Bani Israil sebelum dan pada masa Islam, sering disampaikan oleh para mualaf dari kalangan Ahli Kitab seperti Ka‘ab al-Ahbar dan Wahb bin Munabbih.

2. Otoritas:

Hadits memiliki otoritas sebagai sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an. Ia digunakan sebagai dasar dalam penetapan syariat, akidah, dan akhlak Islam. Sebaliknya, Israiliyat tidak memiliki otoritas hukum dalam Islam. Meskipun beberapa riwayatnya dianggap mengandung hikmah atau kesesuaian dengan ajaran Islam, ia tetap tidak bisa menjadi dalil yang mengikat.

3. Validitas:

Hadits dikaji melalui ilmu sanad dan matan untuk memastikan keasliannya. Proses verifikasi ini menghasilkan klasifikasi hadits berdasarkan tingkat keabsahannya, seperti shahih, hasan, dha‘if, atau maudhu‘ (palsu). Di sisi lain, Israiliyat tidak memiliki metode validasi seperti dalam ilmu hadits, sehingga kebenarannya tidak dapat dipastikan, terutama jika bersumber dari kitab-kitab terdahulu yang telah mengalami perubahan.

4. Fungsi:

Hadits berfungsi sebagai penjelas bagi Al-Qur’an dan sebagai pedoman dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk ibadah, muamalah, dan etika sosial. Sementara itu, Israiliyat umumnya hanya berisi cerita sejarah atau kisah-kisah para nabi terdahulu yang sering digunakan dalam tafsir atau kisah moral, tetapi tidak dapat dijadikan rujukan dalam hukum Islam.

5. Potensi Distorsi:

Hadits, meskipun ada yang lemah atau palsu, tetap memiliki sistem verifikasi yang ketat untuk memilah mana yang sahih dan yang tidak. Sebaliknya, Israiliyat lebih rentan terhadap distorsi karena banyak di antaranya yang bercampur dengan mitos atau unsur yang bertentangan dengan tauhid, seperti kisah-kisah yang menggambarkan para nabi dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi seorang utusan Allah.

Contoh yang populer adalah kisah Malaikat Harut dan Marut yang digambarkan sebagai "Malaikat yang gagal menjadi manusia".

Dengan memahami perbedaan ini, umat Islam dapat lebih berhati-hati dalam menerima informasi keislaman dan memastikan bahwa pemahaman mereka tidak tercampur dengan kisah-kisah yang tidak memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam.

Urgensi Membedakan Hadits dan Israiliyat

1. Menghindari Penyebaran Hoaks Agama

Jika Israiliyat disamakan dengan hadits, maka ajaran Islam akan bercampur dengan cerita fiktif atau terdistorsi. Sebaliknya, jika hadits (terutama hadits eskatologis) dianggap sebagai Israiliyat, maka kebenaran yang diwariskan oleh Nabi ﷺ bisa dianggap mitos belaka.

2. Menjaga Kemurnian Aqidah

Israiliyat sering mengandung unsur syirik atau konsep yang bertentangan dengan tauhid. Memasukkan Israiliyat ke dalam ajaran Islam tanpa penyaringan dapat merusak kemurnian aqidah umat.

3. Mencegah Pengingkaran Hadits Sahih

Beberapa kalangan yang skeptis terhadap hadits eskatologis menganggapnya sebagai Israiliyat, padahal hadits-hadits tentang tanda-tanda kiamat memiliki sanad yang kuat dan telah diverifikasi oleh para ulama. Pengabaian terhadap hadits-hadits ini bisa menyebabkan pemahaman yang salah tentang realitas akhir zaman.

4. Membedakan Hikmah dan Hujjah

Beberapa cerita Israiliyat mungkin memiliki hikmah yang baik, tetapi itu tidak berarti ia bisa dijadikan hujjah (dalil) dalam Islam. Sebaliknya, hadits yang sahih memiliki otoritas sebagai sumber hukum.

Memahami perbedaan antara hadits dan Israiliyat sangat penting agar umat Islam tidak terjebak dalam penyimpangan pemahaman. Kesalahan dalam menyamakan Israiliyat dengan hadits dapat menyebabkan penyebaran cerita yang tidak berdasar dalam Islam. Sementara pengingkaran terhadap hadits sahih, terutama dalam eskatologi, bisa mengaburkan ajaran Islam yang autentik. 

Oleh karena itu, kajian kritis terhadap sumber-sumber Islam harus terus diperkuat dengan metodologi ilmiah agar warisan keilmuan Islam tetap terjaga dari penyimpangan.

Kritik Syekh Imran terhadap Hadits yang Berpotensi Israiliyat

Salah satu contoh hadits yang dikritik oleh Syekh Imran Hosein sebagai kemungkinan terpengaruh Israiliyat adalah riwayat tentang pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Aisyah pada usia 6 tahun dan tinggal serumah pada usia 9 tahun.

Menurutnya, hadits ini tidak selaras dengan prinsip Al-Qur’an. Menurutnya, setiap kali Al-Qur'an berbicara tentang pernikahan selalu dikaitkan dengan kematangan biologis dan kesiapan untuk menjalani hubungan suami-istri.

Syekh Imran merujuk antara lain pada QS. Al-Baqarah: 223:

نِسَآ ؤُكُمْ حَرْثٌ لَّـكُمْ ۖ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْ ۖ 

"Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai..."


Dalam bukunya "Methodology for the Study of the Qur'an" (2013), Syekh Imran menjelaskan bahwa istilah "ḥarts" (حرث) dalam ayat ini berarti ladang yang siap ditanami, yang menunjukkan bahwa seorang perempuan harus mencapai kedewasaan biologis sebelum menikah.

Meskipun istilah "ḥarts" (حرث) secara eksplisit hanya disebut dalam Surat Al-Baqarah ayat 223, namun prinsip-prinsip kematangan biologis, tanggung jawab, dan keharmonisan dalam pernikahan dijelaskan dalam berbagai ayat lain, seperti dalam: An-Nisa: 3, Ar-Rum: 21, An-Nur: 32, dan Al-Isra: 32.

Ayat-ayat tersebut menekankan pentingnya kesiapan fisik, emosional, dan spiritual dalam membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Berdasarkan prinsip ini, hadits yang menyatakan Aisyah menikah pada usia sangat muda dipertanyakan keabsahannya, karena tidak sejalan dengan makna “ḥarts” dalam Al-Qur’an yang menekankan kesiapan biologis dan kematangan.

Selain itu, dalam "Jerusalem in the Qur'an" (2001), Syekh Imran juga menekankan pentingnya memahami hadits dalam konteks Al-Qur’an, sehingga hadits yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip utama Islam harus dikaji ulang.

Pandangan Kalangan Modernis: Hadits Eskatologis sebagai Israiliyat?

Sebagian pemikir modernis Islam menganggap hadits-hadits tentang Dajjal, Imam Mahdi, dan turunnya Nabi Isa sebagai cerita Israiliyat yang disusupkan ke dalam Islam.

Tokoh-tokoh yang berpendapat demikian antara lain:

1. Fazlur Rahman: Menyatakan bahwa hadits-hadits eskatologis dipengaruhi oleh kepercayaan Yahudi dan Kristen (Rahman, Fazlur. 1984. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition).

2. Ahmad Amin: Menganggap konsep Dajjal sebagai mitos dari luar Islam (Amin, Ahmad. 1928. Fajr al-Islam).

3. Muhammad Abduh: Menafsirkan Dajjal secara simbolis, bukan literal (Abduh, Muhammad & Rashid Rida. 1900. Tafsir al-Manar).

4. Ghulam Ahmad Parwez; Menolak hadits eskatologis karena dianggap tidak rasional (Parwez, Ghulam Ahmad. 1955. Islam: A Challenge to Religion).

Sebagian pemikir modernis Islam di Indonesia, tampaknya juga terpengaruh terutama oleh Muhammad Abduh dan Fazlur Rahman.

Membantah Klaim Hadits Eskatologis sebagai Israiliyat

Untuk membantah klaim bahwa hadits eskatologis hanyalah Israiliyat, dapat digunakan beberapa pendekatan:

1. Validasi Sanad dan Matan Hadits

Hadits-hadits tentang Dajjal, Imam Mahdi, dan turunnya Nabi Isa diriwayatkan dalam kitab-kitab Shahih seperti Bukhari dan Muslim.

2. Kesesuaian dengan Al-Qur’an

Turunnya Nabi Isa (QS. Az-Zukhruf: 61) "Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang Hari Kiamat..."

Kemunculan Ya’juj dan Ma’juj (QS. Al-Kahfi: 94, QS. Al-Anbiya: 96).

3. Ijma’ Ulama

Hadits-hadits eskatologis mutawatir maknawi (memiliki banyak riwayat yang mengarah pada kesimpulan yang sama).

Imam As-Suyuthi dalam Al-Hawi lil Fatawi menyebut hadits-hadits tentang Imam Mahdi sebagai mutawatir.

Syekh Imran dalam bukunya "An Islamic View of Gog and Magog in the Modern Age" (2012) menjelaskan bahwa hadits-hadits eskatologis yang sahih justru memiliki relevansi tinggi dengan kondisi geopolitik modern, dan bukan sekadar mitos.

Kesimpulan

Diskusi tentang hadits dan Israiliyat menunjukkan pentingnya pendekatan kritis dalam menyeleksi hadits.

Syekh Imran Hosein menolak hadits yang bertentangan dengan prinsip Al-Qur’an, seperti pernikahan Aisyah di bawah umur, tetapi tetap menerima hadits eskatologis yang memiliki sanad kuat.

Oleh karena itu, fungsi Al-Qur’an dalam menilai hadits harus lebih diutamakan, sehingga hadits yang benar-benar otentik dapat dipertahankan dan yang bermasalah dapat dikritisi.

Refleksi dan Implikasi

Artikel ini mengangkat pentingnya membedakan antara hadits yang sahih dengan cerita Israiliyat, khususnya dalam konteks eskatologi Islam. 

Salah satu refleksi kritis yang dapat diambil dari artikel ini adalah urgensi untuk menjaga kemurnian ajaran Islam dari pengaruh eksternal yang bisa mengaburkan pemahaman umat terhadap fenomena akhir zaman yang otentik. 

Memahami perbedaan antara hadits dan Israiliyat menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa ajaran Islam tetap berdasarkan sumber yang sahih, bukan campuran dari mitos atau cerita yang tidak memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an maupun hadits yang benar.

Keberadaan Israiliyat dalam literatur Islam dapat menjadi tantangan besar, khususnya ketika cerita-cerita tersebut mencakup kisah-kisah yang tidak hanya tidak ada dalam Al-Qur’an, tetapi juga bertentangan dengan ajaran tauhid. 

Di sisi lain, beberapa kalangan skeptis menganggap hadits-hadits eskatologis—yang membahas topik-topik seperti Imam Mahdi, Dajjal, dan turunnya Nabi Isa—sebagai bagian dari Israiliyat, yang pada akhirnya dapat membingungkan umat dalam memahami konsep-konsep eskatologis yang sangat penting dalam Islam. 

Kritik seperti ini, meskipun berdasar pada pendekatan rasional dan modernis, namun mengabaikan fakta bahwa banyak hadits eskatologis yang sebenarnya memiliki sanad yang sahih dan relevansi yang mendalam dengan kondisi dunia kontemporer.

Syekh Imran Hosein, dengan pendekatannya yang kritis, memberikan penekanan pada pentingnya menilai hadits dalam konteks Al-Qur’an. Ia menolak hadits-hadits yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Al-Qur’an, tetapi tetap mempertahankan hadits-hadits eskatologis yang memiliki sanad yang kuat dan sesuai dengan kondisi akhir zaman.

Pendekatan ini penting, karena dapat membantu umat Islam untuk tidak terjebak dalam interpretasi yang keliru tentang akhir zaman, seperti membenarkan klaim-klaim yang tidak sesuai dengan Eskatologi Islam.

Urgensi membedakan antara hadits dan Israiliyat semakin terasa dalam konteks modern, di mana banyak ideologi dan pandangan eksternal berusaha memengaruhi pemahaman umat Islam. 

Dengan memahami dan mengkritisi hadits-hadits yang sahih, umat Islam dapat menjaga kemurnian aqidah dan memastikan bahwa pemahaman terhadap eskatologi tetap berpegang pada ajaran yang autentik dan tidak terdistorsi oleh pengaruh asing.

Referensi

1. Hosein, Imran. Methodology for the Study of the Qur'an. 2013.

Buku ini menguraikan metodologi yang digunakan oleh Syekh Imran dalam mempelajari Al-Qur'an, dengan penekanan pada pentingnya konteks dan pemahaman yang holistik dalam menilai keabsahan hadits.

2. Hosein, Imran. Jerusalem in the Qur'an. 2001.

Buku ini memberikan pemahaman mengenai kaitan antara Al-Qur'an dan sejarah eskatologis, serta peran penting Yerusalem dalam skenario akhir zaman.

3. Hosein, Imran. An Islamic View of Gog and Magog in the Modern Age. 2012.

Buku ini membahas fenomena Gog dan Magog dalam konteks zaman modern, dan mengkritisi interpretasi sejarah yang mengaitkan fenomena ini dengan kekuatan global saat ini.

4. Amin, Ahmad. Fajr al-Islam. 1928.

Buku ini mengkritisi berbagai praktik dalam Islam yang dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip rasionalisme, termasuk analisis terhadap mitos-mitos dalam tradisi Islam yang terpengaruh Israiliyat.

5. Abduh, Muhammad & Rashid Rida. Tafsir al-Manar. 1900.

Tafsir ini merupakan salah satu tafsir terkenal yang menolak pengertian literal terhadap banyak hadits, termasuk hadits eskatologis, dengan memandangnya lebih sebagai simbolik.

6. Parwez, Ghulam Ahmad. Islam: A Challenge to Religion. 1955.

Parwez mengajukan pandangan kontroversial dengan menolak banyak hadits eskatologis sebagai mitos, yang dianggapnya tidak rasional dan bertentangan dengan ajaran Islam yang murni.

7. Rahman, Fazlur. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. 1984.

Buku ini mengeksplorasi hubungan antara Islam dan pemikiran modern, dengan menyoroti tantangan yang dihadapi umat Islam dalam menyesuaikan ajaran agama dengan perubahan zaman, termasuk isu-isu terkait hadits.

9. Suyuthi, Jalal al-Din. Al-Hawi lil Fatawi.

Buku ini mencakup berbagai fatwa dan penjelasan terkait dengan hadits, termasuk membahas hadits-hadits eskatologis dan kedudukan mereka dalam sistem hukum Islam.

Dengan daftar referensi ini, kita bisa memahami berbagai perspektif dalam kajian hadits, Israiliyat, dan eskatologi dalam Islam, serta bagaimana pendekatan kritis terhadap hadits eskatologis dapat diterapkan dalam konteks pemikiran Islam modern.

والله اعلم

MS 06/02/25

Minggu, 01 Januari 2023

Tahun Baru 2023

Mendapat tulisan yang menarik dari grup WA terkait dengan sejarah penanggalan atau Kalender Masehi. Berikut saya copas saja ya.

Suatu Hari Menuju Dari Roma

By: Ahmed Bahrul Khan



    Kalender Masehi yang dinisbatkan pada tahun kelahiran sang Rasul mulia, Al-Masih 'Isa putra Maryam dan dalam perkembangannya telah dijadikan sebagai penanggalan dunia/internasional, bahkan mayoritas sistem kalender yang dipakai oleh negara dari berbagai belahan dunia menggunakan penanggalan tersebut. 
    Akan tetapi, tahukah anda bahwa sebenarnya tidak pernah ada hubungan maupun pengaruh antara tahun kelahiran 'Isa 'alaihis sholawatu wasalam terhadap sistem penanggalan ini, karena jauh sebelum Nabi 'Isa lahir sistem kalender tersebut sudah ada dan digunakan dengan berbagai perubahan, baik nama maupun bulan hingga akhirnya sampai pada sistem perhitungan yang hamper sempurna seperti sekarang ini. 
    Lalu bagaimana sesungguhnya proses pengkaitan kalender ini dengan tahun kelahiran Nabi 'Isa, untuk itu tidak ada salahnya jika kita kembali ke salah satu rumah sejarah peradaban dunia, yang sekarang ini telah menjadi ibukota negara Italia, yaitu Roma (Romawi). 
    Hakikatnya kalender Masehi adalah bermula dari kalender Romawi, sedang kalender Romawi sendiri ada dan berlaku sejak didirikannya Kerajaan Romawi oleh kakak beradik Remus dan Romulus pada tahun 753 SM menurut hitungan kalender sekarang, maka tahun pendiriannya disebut 1 AUC (Ab Urbi Condita=Sejak kerajaan dibangun) dengan Konsep Perhitungan Solar (sistem kalender yang didasarkan dari Musim Semi dan Pergerakan Matahari) sehingga awal musim semi dijadikan sebagai awal Tahun Baru yaitu tanggal 1 Maret. 
    Kalender Romawi hanya memiliki 10 bulan dengan jumlah hari dalam 1 tahun sebanyak 304 hari. Adapun nama-nama bulan tersebut diambil dari sebagian para dewa mereka (Yunani-Romawi), yaitu bulan Maret (Martius) dari Dewa Perang Mars, April dari Dewi Aprilius (Aprilia; Dewi Cinta), Mei dari Dewi Maius (Maia; Dewi Kesuburan), dan Juni dari Dewi Junius (Dewi Juno, Istri Dewa Jupiter). Sedangkan untuk bulan ke 5 sampai 10 berdasarkan penamaan susunan angka Romawi, seperti bulan ke-5 dinamakan Quintilis (Quinque, artinya 5), Sextilis (Sex=6) sebagai bulan keenam, September (Septem=7) sebagai bulan ketujuh, Oktober (Octo=8) sebagai bulan kedelapan, November (Novem=9) sebagai bulan kesembilan dan terakhir Desember (Decem=10) sebagai bulan kesepuluh. Kalender yang terdiri atas 10 bulan itu kemudian berubah menjadi 12, ketika Raja Romawi ke2, Numa Pompillus pada tahun 36 AUC/717 SM menambahkan 2 bulan pada awal kalender tersebut, yaitu Januarius (Dewa Janus yang berwajah dua, menghadap kedepan dan kebelakang, mampu memandang ke masa lalu dan masa depan), karena itu Januari ditempatkan sebagai urutan pertama. Adapun bulan ke-2 adalah Februarius yang diambil dari upacara Februa, yaitu ruwatan atau bersih desa dalam menyambut kedatangan musim semi. Sehingga dari penambahan 2 bulan tersebut mengakibatkan bulan Quintilis sampai Desember terjadi anomalisasi, artinya urutan atau posisi bulan tidak lagi sesuai dengan arti nama yang sebenarnya dan jumlah hari yang awalnya dalam setahun 304 berubah menjadi 354/355 hari. Namun agar tahun baru tetap jatuh pada tanggal 1 Maret (awal musim semi), maka setiap tiga tahun sekali disisipkan bulan interkalasi, setelah bulan Februari. 
    Dalam perkembangannya, pada tahun 708 AUC/47 SM, saat Julian Caesar menjadi Raja Romawi telah terjadi kemelesetan 3 bulan dari awal musim semi sehingga dari peristiwa tersebut, atas saran dari ahli astronomi Sosigenes dari Alexandria (Mesir), Raja Julian Caesar menetapkan ketentuan sebagai berikut : 
  1. Tahun 47 SM ditetapkan menjadi 455 hari dengan penambahan 90 hari, yaitu 23 hari pada bulan Februari dan 67 hari antara bulan November dan Desember 
  2. Mengundurkan bulan Juni menjadi bulan Maret kembali agar sesuai dengan musim semi 
  3. Mulai tahun 46 SM umur rata-rata dalam setahun 365,25 hari, sehingga dalam setiap 4 tahun sekali: tiga tahun berturut-turut 365 hari disebut hari biasa dan pada tahun keempat 366 hari disebut tahun kabisat, dan penambahan 1 hari tersebut diletakkan pada bulan Februari, sehingga 28 hari pada tahun biasa dan 29 hari tahun kabisat 
  4. Permulaan tahun baru ditetapkan pada tanggal 1 Januari yang sebelumnya adalah tanggal 1 Maret 
  5. Titik permulaan awal musim bunga ditetapkan pada tanggal 24 Maret 

    Dengan kejadian tersebut maka pada tahun 708 AUC/47 SM berubah menjadi tahun 1 Julian dan untuk mengenang jasanya maka nama bulan Quintilis dirubah menjadi bulan Juli serta merubah bulan Sixtilis dengan nama Agustus, untuk menghormati Kaisar Augustus yang berkuasa setelah Julius Caesar (5-33 Julian/42-14 SM). 
    Kemudian masa terus bergulir, sampai orang-orang Romawi mulai memeluk agama Nasrani secara turun temurun, hingga gereja termasuk dalam bagian dari sistem pemerintahan beberapa abad lamanya, namun barulah pada tahun 572 Julian saat Kaisar Justian menugaskan Rahib Katolik Dionysius Exogus untuk membuat perhitungan tahun dengan bertolak pada tahun kelahiran Yesus. Berdasar perkiraan Dionysius bahwa Nabi ‘Isa lahir pada tahun 47 Julian, sehingga berubahlah dari tahun 47 Julian menjadi 1 AD (Anno Domini= Tahun Tuhan) dan tahun 572 Julian diganti dengan mengundurkannya menjadi 526 AD. Anno Domini (AD) yang lebih kita kenal dengan sebutan Masehi. 
    Seiring bergantinya tahun ke tahun, kalender Masehi masih belum mencapai titik sempurna pada sistem perhitungannya, karena jumlah hari dalam setahun menurut kalender Julian 365,25 sedangkan berdasar tahun tropis (khatulistiwa) 365,2422 hari, sehingga sejak kalender Julian ditetapkan hingga tahun 1582 M telah terjadi penambahan sebanyak 10 hari yang ketika itu tanggal 4 Oktober 1582 M. Akhirnya seorang Paus Gregorious XIII selaku pimpinan gereja Roma melakukan pembaharuan dengan menetapkan : 
  1. Titik permulaan musim bunga yang ditetapkan Julian Caesar pada tanggal 24 Maret dirubah menjadi 21 Maret 
  2. Hari kamis tanggal 4 Oktober 1582 M diikuti oleh hari jum’at tanggal 15 Oktober 1582 M, sehingga tanggal 5-14 Oktober 1582 M tidak pernah ada dalam sejarah. 

    Dari peristiwa tersebut dikenalah dengan Kalender Gregorian dan untuk memperkecil kesalahan pada masa mendatang, tiga dari empat sentesimal (tahun peralihan abad) yang selalu kabisat dibuat sebagai tahun biasa. Jadi 1600 kabisat; 1700, 1800 dan 1900 tahun biasa; 2000 kabisat lagi dan seterusnya. Sistem Gregorian ini ternyata cukup akurat, hanya berlebih 0,0003 hari per tahun, sehingga untuk mencapai kesalahan 1 hari diperlukan waktu 3333 tahun. Jadi, kalender Gregorian baru perlu dikoreksi pada awal abad ke 50 Masehi. 

Referensi : 
  • Ashadi. 2016. Peradaban dan Arsitektur Klasik Yunani-romawi. Jakarta: UMJ Press. 
  • Marpaung, Watni. 2015. Pengantar Ilmu Falak. Jakarta: Prenadamedia Group. 3. Wikipedia (Kalender Romawi, Julian, Masehi dan Gregorian)

Kamis, 23 September 2021

Nusantara Gak Pernah Terkalahkan

Tulisan ini didapat dari grup WA, karena isinya bagus saya simpan di blog ini sehingga bisa dibaca kembali.. Saya copy paste apa adanya.

--

Dari Prof DR Dra Parwatri Wahyono 

Prof Dr Agus Budiyono, alumnus ITB, alumnus MIT Amerika Serikat. Perguruan Tinggi sangat bergengsi di dunia. Beliau lama mengajar sebagai Profesor di Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Australia. 

Hari ini beliau menerima Penghargaan dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dalam "Tujuh Puluh Empat Ikon Apresiasi Prestasi Pancasila" atas prestasi dan inspirasinya sebagai penyandang empat gelar Profesor di bidang Aeronautika dan Astronautic.

Dari beberapa kali berdiskusi dengan beliau, tampak sekali keinginan kuat beliau untuk menyatukan dan memperkuat potensi-potensi SDM yang dimiliki Indonesia untuk memajukan Indonesia oleh anak-anak bangsa sendiri. Sejak pulang dari mancanegara ke tanah air pada akhir 2016, tidak menunggu lama, beliau berkeliling ke seluruh pelosok tanah air guna membangkitkan kepercayaan diri anak bangsa bahwa Indonesia mampu! Indonesia bisa! 

Tulisan beliau terbaru (19 Agustus 2019) berjudul " Nusantara Tidak Pernah Dikalahkan", sungguh sangat menyentuh dan menyentak keIndonesiaan kita, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.

Andai saja Presiden Joko Widodo menunjuk beliau sebagai Menristekdikti dalam kabinet mendatang, saya yakin wajah dunia pendidikan tinggi dan dunia riset di Republik ini akan berubah.

Beliau tidak akan mengimpor Rektor dan Peneliti dari negara lain.

Semoga...


ARTICLE: Nusantara Tidak Pernah Dikalahkan

READING TIME: 6 MINUTES

by Agus Budiyono, Alumni Massachusetts Institute of Technology

disampaikan dalam Seminar Nasional "Literasi Sains untuk Membumikan Nilai-nilai Pancasila" Solo, 19 Agustus 2019

Saya menghabiskan sebagian besar usia dewasa saya di luar nusantara. Saya pernah tinggal di Amerika (Cambridge, Boston, Nashua, Columbus),Eropa (Assen),Australia (Melbourne) dan Timur Jauh (Seoul). Kemanapun saya pergi saya bangga menjadi orang Indonesia. Sangat bangga. Saya datang dari bangsa yang kaya raya. Nenek moyang sayalah yang dulu menyelamatkan bangsa Eropa dari ancaman kepunahan dan membiayai transformasi masyarakat mereka untuk keluar dari abad kegelapan. Eropa tahun 1200an adalah daratan yang terkebelakang. Lima ratusan tahun kemudian, pun dengan episode Renaissance tahun 1400-1700an, nasib mereka tidak berubah banyak. Sampai tahun 1694, Eropa masih didera wabah kelaparan. Menurut catatan pegawai di kota Beauvais, wabah kelaparan yang mengganas membuat para warga yang miskin mengkonsumsi makanan yang sangat tidak higienis (dan tidak akan pernah terbayang oleh penduduk nusantara kita). Mereka makan kucing dan serpihan bangkai kuda yang terserak di tengah kotoran. Lainnya memakan paku-pakuan, rumput dan akar tanaman yang mereka rebus dalam air. Pemandangan ini meruyak di seluruh daerah Perancis. Sekitar 15% populasi Perancis mati kelaparan antara tahun 1692-1694. Tahun 1695, wabah yang sama memukul Estonia dan membunuh seperlima populasinya. Tahun berikutnya, 1696, adalah giliran Finlandia yang seperempat penduduknya habis. Sementara itu Skotlandia juga dihajar wabah kelaparan antara tahun 1695-1698, dimana beberapa daerah kehilangan 20% dari penduduknya. Itulah wajah Eropa selama lebih dari setengah abad. Negeri-negerinya diperintah oleh penguasa-penguasa yang lalim dan diperas oleh para perampok dan bajak laut. Sementara warga Perancis sedang sekarat dan bergulat dengan kelaparan masal, Raja Louis XIV asyik glenikan dengan simpanan-simpanannya di Versailles.


Bagaimana kondisi nusantara pada perioda tersebut? Pada perioda 1200 - 1700 nusantara kita adalah tempat paling makmur seluruh dunia. Setelah era kerajaan maritim Sriwijaya (650-1183), tahun 1300an muncul, Majapahit, empire kedua di Nusantara yang masa keemasannya didokumentasikan dalam buku Negara Kertagama. Wilayah Majapahit membentang melebihi Indonesia kita sekarang ini. Subur kang sarwo tinandur. Gemah ripah loh jinawi. Sawah luas seperti tanpa batas. Hutan dan kebun dengan seribu macam buah, umbi-umbian, rempah-rempah dan tentunya beraneka ragam ternak. Sungai, laut dan danau penuh berisi ikan dan berbagai komoditi. Sementara tanah yang dipijak berisi mineral dan berbagai logam mulia. Pendeknya, nusantara kita adalah paradisal archipelago. Raja-raja kita memerintah dengan adil dan bijaksana. Memang ada persaingan dan peperangan di sana-sini. Tetapi ini peperangan bukan karena kekurangan. Semua raja di wilayah nusantara adalah penguasa yang kaya raya. Madep ngalor sugih, madep ngidul sugih. Tidak pernah ada masalah kelaparan seperti di Eropa sana. Jadi tidaklah logis. It doesn't add up. Ora gathuk. Tidak nalar, kalo bangsa kelaparan tadi itu datang kledang-kledang menjajah bangsa yang kuat dan makmur. Dari keseluruhan riset saya, berikut ini adalah rekonstruksi yang lebih mungkin terjadi di situasi nusantara kita saat itu:


1. Para explorer dari Eropa itu dikirim kemana-mana oleh penguasanya justru sebagai misi SOS (tapi kemudahan berkembang menjadi misi keserakahan). Bangsa nyaris punah yang sedang mencari jalan keselamatan. Mereka mengetahui dari laporan para traders sebelumnya bahwa ada negeri makmur di katulistiwa yang mempunyai semuanya. Sumber daya yang besar. Itu adalah harapan besar bagi mereka untuk survive.


2. Ketika datang ke nusantara, tidak seperti yang digambarkan oleh kebanyakan narasi mereka kemudian(yang ironically menjadi rujukan utama sejarah kita sampai saat ini), mereka bukanlah datang dengan kapal-kapal yang gagah yang pantas untuk menguasai kita. Layar kapal-kapal mereka compang-camping. Tiang-tiang kapal banyak yang patah. Awak-awak kapal mereka kurus kering, kelaparan dan penyakitan sesudah dihajar badai-badai dan digarap para perompak sepanjang lintasan ke nusantara. Mereka tiba di kepulauan kita dengan kaki lemes, mata nanar dan tatapan kosong. Salah satu episoda yang tercatat secara resmi adalah diterimanya 7 pelaut Portugis oleh Sultan Abu Lais tahun 1512, sesudah mereka diselamatkan oleh nelayan karena kapalnya hampir karam. Alvares Cabral memimpin pelayaran 13 kapal dan hanya 7 yang selamat.


3. Hanya atas belas kasihan raja-raja kita lah mereka itu diterima dan ditampung dalam wilayah nusantara. Disanak dan diorangkan, karena penguasa-penguasa kita menjunjung tinggi nilai bahwa tamu haruslah dihormati. Sebenarnya kalangan Central Intelligence istana sudah menengarai bahwa ada potensi ancaman (kelak akan terbukti secara besar-besaran), tapi raja-raja kita adalah penguasa yang dermawan dan terbuka hatinya. Atas nama kemanusiaan, orang-orang asing tersebut diberi makan dan bahkan diberi sekedar pekerjaan. Karena memang di negeri asalnya sana sedang berlangsung krisis pekerjaan dan ekonomi sampai orang-orang mati kelaparan di jalan-jalan. Penguasa kita, yang resourcenya luar biasa, menyisihkan sedikit opportunity buat mereka. Zaman sekarang ini mungkin sektor pekerjaan informal: menyapu halaman, membantu masak, membersihkan kandang kuda, menguras kolam ikan dsb.


4. Dalam perkembangannya, kelompok yang mula-mula disanak tadi ternyata sesuai prediksi berbalik mengkudeta para tuan-nya. Dibekali dan diperkuat dengan teknologi senjata api yang marak di Eropa, gelombang-gelombang pendatang baru ke nusantara ini perlahan-lahan mulai melakukan aksi penguasaan. Dimulai dari taktik monopoli dagang. Kemudian secara berangsur yang tadinya adalah perusahaan menjadi pemerintahan. Dimulai dengan datangnya Afonso de Albaquerque (belajar dari rute Diaz dan Vasco De Gama) tahun 1511 di selat Malaka sesudah ybs menaklukan satu demi satu pelabuhan-pelabuhan di perairan India. Persaingan kemudian terjadi antara bangsa pendatang Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda. Masing-masing ingin menguasai dan memonopoli jalur rempah-rempah. Mereka, bangsa yang kelaparan dan hampir punah ini, menemukan bahwa dagang rempah-rampah sangat menguntungkan.


5. Gelombang explorer dari Eropa tadi terbukti ternyata membawa kerusakan di seluruh wilayah dunia, tidak hanya Nusantara. Pada Maret tahun 1520 ketika fleet Spanyol tiba, Meksiko adalah rumah bagi 22 juta penduduknya. Pada bulan December, penduduknya tinggal 14 juta. Pendatang Eropa tidak hanya membawa mesiu, mereka juga datang dengan virus cacar, flu dan tubercolusis. Tahun 1580 penduduk Meksiko menyusut menjadi tinggal 2 juta. Dua abad kemudian, pada tanggal 18 Januari 1778, explorer Inggris James Cook mencapai kepulauan Hawaii, daerah padat dengan penduduk hampir setengah juta.  Tahun 1853 hanya 70,000 orang yang selamat mewarisi puing-puing Hawaii. Peradaban Maya dan Aztec kolaps dan punah karena sergapan dan dominasi bangsa Eropa. Tetapi peradaban Nusantara kita berbeda. Tidak sedikitpun kita bergeming dari serbuan bangsa barbar dari Utara. Sejak pecah perang pertama, tahun 1500an di Ternate, penduduk nusantara tidak berhenti angkat senjata untuk mengusir bekas budak yang menjadi durhaka. Perang Saparua di Ambon, Perang Padri (Sumbar), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Aceh (1873-1904), Perang Jagaraga (Bali) dan ratusan perang lainnya. Demikianlah bela tanah air ini terus berlanjut sampai proklamasi kemerdekaan 1945 dan era mempertahankan sesudahnya.      Termasuk era perang budaya dan teknologi yang sekarang berlangsung.


6. Catatan ini kiranya penting bagi generasi muda Indonesia. Mereka harus kita bekali kepercayaan dan sejenis keimanan bahwa mereka adalah bagian dari bangsa pejuang dan negeri pemenang yang setara dengan negara besar dimana saja. Bangsa besar yang bisa memimpin dan memandu bangsa-bangsa lain di seluruh dunia.


Maka, kelak di tahun 2045, ketika Indonesia sudah menjadi salah satu dari 5 besar ekonomi dunia, saya juga ingin membantu memastikan bahwa kita adalah 1 dari 5 negara yang aktif mengurus dan mungkin malah memimpin Stasiun Ruang Angkasa Dunia (International Space Station). Launching station kita akan terletak di Morotai yang dilewati garis equator sehingga bahan bakar roket kita akan lebih hemat. Space Shuttle kita bukan bernama Magellan atau Nebuchadnezaar, tapi adalah SS Karaeng Galesung, SS Tjoet Nya' Dien atau SS Ngurah Rai. Nama orang-orang gagah berani yang menjadi saksi bahwa penjajahan sejati tidak pernah ada di Nusantara.


Ditulis dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 dan memperinganti penerbangan pertama pesawat N250 buatan Indonesia, 10 Agustus 1995.


References (primary and partial list):

  • Diamond, Jared. Collapse: How societies choose to fail or succeed. Penguin, 2005.
  • Diamond, Jared. Guns, Germs and Steel. New York (1997).
  • Harari, Yuval Noah. Sapiens: A brief history of humankind. Random House, 2014.
  • Harari, Yuval Noah. Homo Deus: A brief history of tomorrow. Random House, 2016.
  • Prapanca, Mpu. Negara Kertagama. Majapahit, 1365
  • Library of Congress, Reuters, AP, AFP, Compton’s Encyclopedia, Wikipedia, National Geographic, Smithsonian magazine, New York Times, Washington Post, Los Angeles Times, Times of London, Lonely Planet Guides, The Guardian, The New Yorker, Time, Newsweek, Wall Street Journal, The Atlantic Monthly, The Economist

Senin, 21 Juni 2021

Tips Menulis Jurnal Untuk Mahasiswa BimbinganKu

Assalamu alaikum

Selamat Pagi/Siang/Sore/Malam*)  Para Pejuang S.Kom Prodi Informatika

--

Ditujukan kepada Mahasiswa yang sedang menulis Jurnal sebagai syarat publikasi.

Perlu saya sampaikan beberapa hal berikut:

  1. Jurnal tidak sama dengan skripsi, walaupun topiknya sama. Oleh karena itu Jurnal dibuat dengan mengikuti tata cara penulisan jurnal yang dituju (ikuti format dan sistematika sesuai template Jurnal)
  2. Jumlah halaman jurnal terbatas 6-8 halaman saja. Sehingga tidak bisa "COPAS" langsung dari Skripsi. Harus dilakukan perbaikan redaksional. Hindari kata-kata yang boros. Kata yang berulang. Mungkin 2-4 kalimat bisa disingkat menjadi 1 kalimat saja namun pesannya tetap sama.
  3. Jurnal menitik beratkan kepada metode yang digunakan dan hasilnya. Artinya porsi untuk menjelaskan metode menjadi penting dan diuraikan dengan jelas sehingga tergambarkan bagaimana metode itu bisa menjadi solusi. Misal LBS, Haversin, Truck / Taxi Sharing, Euclidean Distance, Naïve Bayes, k-means, Fuzzy, dll..  Sehingga jika Jurnal kita dibaca orang lain orang tersebut dapat mengetahui metode yang kita gunakan pada kasus yang dihadapi dan menghasilkan keluaran yang seperti apa. Apakah sesuai dan menjadi solusi atau tidak. Dan itulah bagian jurnal yang layak dikutip.. bukan mengutip definisi yang ditulis pada jurnal. Itu sama saja “terpaksa” mengutip.. 
  4. Metode pengembangan software adalah SDLC dengan berbagai pendekatan spt Waterfall, Prototyping, Spiral, dll.. itu bukan bagian yang harus dijelaskan tiap tahapnya.. TETAPI apa yang sudah dikerjakan pada tiap tahap tersebut  atau jika lebih spesifik metode apa yang digunakan pada tiap tahap. Misal pada tahap analisis kebutuhan, metode apa yang digunakan melakukan analisis. Bagaimana mendapatkan data dan tools apa yang digunakan. Pada Tahap Perancangan.. metode dan tools apa yang digunakan untuk pemodelannya (DFD, ERD, UML, ….)
  5. Masih banyak yang keliru membedakan Metodologi Penelitian dengan SDLC.. kadang digabungkan menjadi satu (campur aduk). Sebagai contoh kontras.. Untuk penelitian seorang Mahasiswa Fisipol.. ia tetap bisa menuliskan Metodologi Penelitian.. tetapi mrk ‘mungikin’ tidak akan menggunakan SDLC.. Ini berarti SDLC salah satu  bagian atau satu tahapan dari Metodologi Penelitian dan ini khusus bagi mahasiswa informatika dan ilmu yang serumpun.
  6. Banyak mahasiswa menulis pembahasan hasil yang tidak penting. Misalnya membahas Proses Login, proses CRUD yang berhasil... untuk apa? itu level tugas MK saja.. Bahaslah hasil dari metode yang diusulkan. Misalkan jika menggunan LBS bahaslah mekanisme kerjanya pada aplikasi yang dibuat.. Contoh lain, jika menggunakan k-mean clutering, bahasnya hasil yang diperoleh. 
  7. Pembahasan tentang Pengujian juga difokuskan kepada pembuktian bahwa metode yang diterapkan sudah berhasil. jangan memasukkan pengujian "Proses Login" ..Pengujian CRUD... pada Jurnal.. Sekalipun proses itu berhasil dengan Sukses.. tidak ada kontribusi keilmuan disitu.. Itu level tugas saja.. sudah selesai.
  8. Termasuk pengujian UAT... itu tidak urgen dimasukkan ke dalam Jurnal... karena tidak ada kontribusi ilmu nya.. kecuali penelitian tentang UI/UX.. justru itu menjadi penting. Contoh.. jika Mahasiswa membuat aplikasi SPK Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Menggunakan AHP...  UAT yang berfokus hanya pada tampilan tentu tidak layak dibahas...karena jauh sekali dari metode AHP yang digunakan.. Ujilah dengan data uji..dengan kasus" tertentu.. untuk membuktikan AHP yg diterapkan  mampu memberikan keputusan yang benar dan dibandingkan dengan perhitungan manual.. 
  9. Pada bagian kesimpulan. Sering terjadi menyimpulkan hal-hal bersifat umum. Contoh “..berdasarkan hasil pengujian dapat diketahui bahwa sistem dapat berjalan dengan baik”. Kalimat kesimpulan ini sangat umum dan tidak dapat dikutip sebagai suatu hasil penelitian. Kesimpulan yang spesifik sangat terkait dengan bagian “hasil dan pembahasan”.  (Lihat No 6,7,8) . Misalkan; metode yang digunakan adalah k-mean clusering, jumlah kelas yang dibuat ada 3 kelas. Setelah diproses terbentuklah 3 kelas data. Dari 3 kelas dapat dianalisis apakah ada anggota kelas yang “tidak tepat” masuk ke kelas data tersebut..jika ada.. bahaslah mengapa hal itu terjadi.. pembahasan ini sangat spesifik sehingga bisa menghasilkan kesimpulan yang spesifik. 
  10. Contoh lain dalam membuat kesimpulan. Pada bagian pembahasan ternyata diperoleh nilai  tidak memuaskan (misal skala maks 100 tapi diperoleh nilai 75) jelaskan mengapa hal ini terjadi, apa saja yang mungkin mempengaruhi nilai tersebut sehingga tidak maksimal. Sehingga pada bagian kesimpulan dapat disimpulkan hal yang spesifik. Misal kesimpulannya: “ Dengan metode “A” nilai presisi yang dicapai sebesar 75, nilai ini belum menunjukkan hasil yang sangat baik namun sudah cukup merepresentasikan sistem “X”. Kondisi ini dipengaruhi beberapa hal seperti jumlah sampel data, durasi waktu pengambilan data, ……
  11. Perlu diperhatikan pula.. Bahwa Jurnal bersifat terbuka dan dapat diakses bebas. Semua orang bisa baca dan menilai isi Jurnal. Sehingga perlu menjaga kredibilitas nama penulis.. dengan membuat jurnal secara baik. Melakukan sitasi (kutipan) dengan baik dan bertanggung jawab.


Semoga poin poin di atas dapat dicerna dengan baik.. Selamat Bekerja

to be continued..(jika dapat inspirasi lagi…)


Senin, 15 Februari 2021

PENELITIAN "T I K U S"

Tikus Percobaan


Seorang Profesor melakukan percobaan di depan mahasiswanya.

Seekor tikus jantan di masukkan ke kotak.

Di dalam kotak  ada tikus betina dan roti...

Ternyata tikus jantan berlari ke roti...dan memakannya


Hari ke dua...

Tikus di masukkan ke kotak lagi.., rotinya di ganti ikan goreng ..........................

Tikus jantan berlari ke ikan goreng .............


Hari ke tiga....

Tikus di masukkan ke kotak lagi...

Kue diganti kacang...

Tikus jantan tetap berlari ke kacang...


Selama tiga hari ber- turut2, tikus hanya berlari ke makanan, tanpa sedikitpun peduli kepada tikus betina.


"Jadi saudara saudari mahasiswa semua, kita dapat mengambil kesimpulan dari percobaan tadi. 

Bahwa daya tarik makanan bisa mengalahkan daya tarik wanita...."


Namun seorang Mahasiswa bernama Busro angkat tangan....


" Maaf Profesor. Percobaan ini saya pikir kurang sempurna dan tidak valid. Bagaimana kalau si tikus betinanya yg kita ganti ? "


" Maksudmu  gimana  ? " Tanya Professor 


" Tikus betina itu, kita ganti dengan tikus betina yg lain Prof...Siapa tahu tikus yg ada di kotak tadi itu adalah " ISTRINYA !! "

😁😀🏃🏃🏃

Profesor : Anda lulus mata kuliah ini & tdk perlu ikut ujian👍🤩

Dalam hati, Sang Profesor berkata :  Saya telah menemukan jawaban, krn selama ini jika pulang ke rumah saya selalu lgsg menuju meja makan... Bukan menghampiri istri ! 😆🙈

Pesan Moral : 

Pulanglah kerumah, hampirilah Istrimu....kecuali  kamu memang tikus...

😂😂😂

Slamat beraktifitas sahabatku semua, salam sehat dan Tetap semangat !!!.


(Sumber: WA Grup)

KISAH RASULULLAH ﷺ Bagian 15

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد

 Abdul Muthalib Wafat

 Muhammad dibawa pulang oleh Ummu Aiman. Ia pulang sambil menangis hatinya pilu karena kini sebatang kara. Muhammad makin merasa kehilangan. Ia menjalani takdir sebagai seorang anak yatim-piatu. Terasa olehnya hidup yang makin sunyi dan semakin sedih.

 Baru beberapa hari yang lalu, ia mendengar dari ibunya cerita keluhan duka kehilangan ayahandanya semasa ia dalam kandungan.

Kini, ia melihat sendiri di hadapannya, ibunya pergi untuk tidak kembali lagi, sebagaimana ayahnya dulu. Muhammad yang masih kecil itu kini memikul beban hidup yang berat, sebagai seorang yatim-piatu.

 Ketika tiba di Mekah, Abdul Muthalib menyambut kedatangan cucunya itu dengan rasa iba yang dalam. Kecintaan Abdul Muthalib pun semakin bertambah kepada Muhammad.

 Rasa duka Muhammad mungkin agak ringan apabila kakeknya, Abdul Muthalib, dapat hidup lebih lama lagi. Namun, Allah سبحانه و تعال

sudah menentukan lain.

Pada usia 80 tahun, sang kakek pun meninggal dunia. Saat itu, Muhammad berusia delapan tahun. Ia mengiringi jenazah kakeknya ke kubur sambil berlinangan air mata.

 Kenangan sedih sebagai anak yatim-piatu membekas begitu dalam pada diri Rasulullah, sehingga di dalam Al Quran pun disebutkan ketika Allah mengingatkan Rasulullah ﷺ akan nikmat yang dianugerahkan kepadanya di tengah kesedihan itu,

 أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?

Surah Ad-Duha (93:6)

 وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.

Surah Ad-Duha (93:7)

 

Keluarga Umayyah

 

Kematian Abdul Muthalib merupakan pukulan yang berat bagi keluarga Hasyim. Tidak ada anak-anak Abdul Muthalib yang memiliki keteguhan hati, kewibawaan, pandangan tajam, terhormat, dan berpengaruh di kalangan Arab seperti dirinya.

 Kemudian keluarga Umayyah tampil ke depan mengambil tampuk pimpinan yang memang sejak dulu mereka idam-idamkan, tanpa menghiraukan ancaman yang datang dari keluarga Hasyim.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد

 Diasuh Abu Thalib

 Sebelum wafat, Abdul Muthalib menunjuk salah seorang anaknya untuk mengasuh Muhammad. Ia tidak menunjuk Abbas yang kaya, namun agak kikir. Ia juga tidak menunjuk Harist, putranya yang tertua karena Harist adalah orang yang tidak mampu.

Abdul Muthalib menunjuk Abu Thalib untuk mengasuh Muhammad karena sekalipun miskin, Abu Thalib memiliki perasaan yang halus dan paling terhormat di kalangan Quraisy.

 Abu Thalib juga amat menyayangi kemenakannya itu. Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas, suka berbakti, dan baik hati, sangat menyenangkan Abu Thalib. Ia bahkan lebih mendahulukan kepentingan Muhammad daripada anak-anaknya sendiri.

 Begitu pun sebaliknya, Muhammad amat mencintai pamannya. Ia tahu pamannya memiliki banyak anak kecil dan hidup dalam kemiskinan. Namun demikian, pamannya tidak pernah berhutang kepada orang lain. Abu Thalib lebih suka bekerja keras memeras keringat untuk menafkahi keluarganya. Karena itulah, tanpa ragu, Muhammad ikut bekerja seperti anak-anak Abu Thalib yang lain. Ia ikut membantu pekerjaan keluarga Abu Thalib, menggembalakan kambing, dan mencari rumput.

 Abu Thalib merasa bahwa Muhammad kelak akan menjadi orang yang bersih hatinya dan dijauhkan dari dosa. Ia yakin, jika mengajak Muhammad berdoa, Tuhan akan mengabulkan permohonannya. Seperti yang dilakukannya ketika orang-orang Quraisy berseru "Wahai Abu Thalib, lembah sedang kekeringan dan kemiskinan melanda. Marilah berdoa meminta hujan".

 Maka, Abu Thalib keluar bersama Muhammad. Ia menempelkan punggung Muhammad ke dinding Ka'bah dan berdoa. Kemudian, mendung pun datang dari segala penjuru, lalu menurunkan hujan yang sangat deras hingga tanah di lembah-lembah dan di ladang menjadi gembur.

 

Bagian 14   |   Bagian 16

KISAH RASULULLAH ﷺ Bagian 14

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد

 Bertemu Kakek dan Ibunda

 Tidak lama kemudian, datanglah seseorang bernama Waraqah bin Naufal dan seorang temannya dari Quraisy. Keduanya menyerahkan Muhammad kepada Abdul Muthalib,

 "Ini anakmu, kami menemukannya di Mekah Atas."

 Alangkah lega dan gembiranya Abdul Muthalib.

 "Cucuku!" katanya sambil mendekap Muhammad.

 Abdul Muthalib memperhatikan cucunya dengan wajah berseri-seri, "Apakah kamu mau kakek ajak menunggangi unta yang hebat?"

 "Mau. Tetapi, mana untanya kek?"

 Sambil tertawa, orang tua itu mengangkat Muhammad dan mendudukkannya di atas bahu.

 "Kau kini telah menduduki untanya, Nak! Ha....ha....ha...."

 "Wah, unta hebatnya kok sudah tua ya Kek?"

 "Biar tua, tapi ini unta yang hebat, cucuku! Lihat unta ini mampu mengajakmu berthawaf mengelilingi Ka'bah."

 Abdul Muthalib membawa Muhammad berthawaf di Kabah. Setelah itu ia memintakan perlindungan Tuhan untuk cucunya itu dan mendoakannya.

 "Mari kita menemui ibumu sekarang," ajak Abdul Muthalib.

 Alangkah senangnya anak dan ibu itu ketika mereka saling bertemu. Walaupun demikian, tersisip kesedihan di hati Muhammad ketika ia melepas Halimah As Sa'diyah, ibu susu yang selama ini telah merawatnya dengan limpahan kasih yang demikian besar.

 "Selamat tinggal Muhammad. Jadilah orang besar seperti yang pernah dikatakan ibumu," kata Halimah sambil beranjak pergi.

 Sampai dewasa, Muhammad tidak pernah memutuskan tali silaturahim dengan ibu susunya itu.

 

Gembala Kambing

 

Mulai dari hidupnya di Bani Sa'ad sampai masa kecilnya di Mekah, hidup Nabi Muhammad dilalui sebagai seorang gembala.

 Waraqah bin Naufal

 Waraqah bin Naufal adalah paman Khodijah

(kelak menjadi istri Muhammad).

Waraqah bin Naufal tidak menyukai berhala. Ia tetap mengikuti ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, menjadi hamba Allah yang setia.

Ia tidak meminum minuman keras dan tidak berjudi. Ia bermurah hati terhadap orang orang miskin yang membutuhkan pertolongannya.

 Di Bawah Asuhan Kakek

 Sejak itu, Abdul Muthalib bertindak sebagai pengasuh cucunya. Ia mengasuh Muhammad dengan sungguh-sungguh dan mencurahkan segala kasih sayangnya.

 Abdul Muthalib adalah pemimpin seluruh Quraisy dan seluruh Mekah. Untuk dia, diletakkan hamparan khusus tempatnya duduk di bawah naungan Ka'bah. Anak-anak beliau, paman-paman Muhammad, tidak ada yang berani duduk di tempat itu. Mereka duduk di sekeliling hamparan itu sebagai penghormatan kepada ayah mereka.

 Suatu saat, Muhammad kecil yang montok itu duduk di atas hamparan tersebut. Serentak paman-paman beliau langsung memegang dan menahan Muhammad agar tidak duduk di atas hamparan.  Namun, ketika Abdul Muthalib datang dan melihat kejadian tersebut, berkata:

 "Biarkan anakku itu," katanya, "Demi Allah, sesungguhnya dia akan memiliki kedudukan yang agung."

 Kemudian, Abdul Muthalib duduk di atas hamparan tersebut sambil memangku Muhammad. Dielus-elusnya punggung Muhammad penuh sayang. Abdul Muthalib bergembira dengan apa yang dilakukan cucunya itu.

 Lebih-lebih lagi, kecintaan kakek kepada cucunya itu timbul ketika Aminah kemudian berniat membawa Muhammad ke Yatsrib untuk diperkenalkan kepada saudara-saudara ibunya dari keluarga Najjar.

Perjalanan ini juga bertujuan menengok makam Abdullah, ayah Muhammad. Sudah lama Aminah memendam keinginan untuk menengok makam suami tercintanya itu. Kini, ia akan berangkat dengan ditemani putranya seorang.

 Aminah Wafat

 Dalam perjalanan itu, Aminah membawa Ummu Aiman, budak perempuan peninggalan Abdullah. Sesampainya di Yatsrib, mereka disambut oleh saudara-saudara Aminah. Kepada Muhammad diperlihatkan rumah tempat ayahnya meninggal dulu serta tempat ia dikuburkan.

 Itu adalah saat pertama Muhammad benar-benar merasa dirinya sebagai anak yatim. Apalagi ia mendengar ibunya bercerita panjang lebar tentang sang ayah tercinta yang setelah beberapa waktu tinggal bersama-sama, kemudian meninggal dunia.

 (Di kemudian hari, setelah hijrah, pernah juga Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam menceritakan kepada sahabat-sahabatnya tentang kisah perjalanan masa kecil beliau ke Yatsrib yang saat itu telah berubah nama menjadi Madinah.

Beliau amat terkenang dengan perjalanan bersama ibunya itu, kisah perjalanan penuh cinta pada Madinah, kisah penuh duka pada orang yang ditinggalkan keluarganya.)

 Sesudah cukup sebulan tinggal di Madinah, mereka pun bersiap pulang. Mereka berjalan dengan menggunakan dua ekor unta yang mereka bawa dari Mekah.

Akan tetapi, di tengah perjalanan, di sebuah tempat bernama Abwa*), Aminah menderita sakit hingga kemudian meninggal di tempat itu.

 "Ibu! Ibu!" panggil Muhammad kepada ibunya yang sudah wafat.

 Dalam pelukan Ummu Aiman, dengan air mata meleleh, Muhammad menyaksikan tubuh ibunya dikuburkan di tempat itu.

 Pada usia enam tahun. Muhammad SAW telah menjadi seorang anak yatim piatu.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد

 

Abwa

Abwa adalah sebuah dusun yang terletak di antara Madinah dengan Juhfa. Jaraknya 37 km dari Madinah

 

Bagian 13   |   Bagian 15

KISAH RASULULLAH ﷺ Bagian 13

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد

 *Percakapan dengan Aminah *

 Karena kejadian itu, Halimah kembali ke Mekah dan menyerahkan Muhammad kepada ibunya. Aminah menerima kedatangan mereka dengan rasa heran,

 "Mengapa engkau mengantarkannya kepadaku, wahai ibu susuan? Padahal sebelumnya engkau meminta ia tinggal denganmu?"

 "Ya," jawab Halimah,

 "Allah telah membesarkan Muhammad. Aku sudah menyelesaikan apa yang menjadi tugasku. Aku merasa takut karena ada banyak kejadian terjadi padanya. Jadi, ia aku kembalikan kepadamu seperti yang engkau inginkan."

 "Sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya Aminah, "berkatalah dengan benar kepadaku."

 Halimah terdiam sejenak, lalu bercerita dengan rasa berat, "Ada dua orang berbaju putih membawanya ke puncak bukit. Mereka membelah dan mengeluarkan sesuatu dari dalam dadanya."

 Setelah berkata demikian, Halimah mengangkat wajahnya memandang Aminah, tetapi ia terkejut melihat wajah Aminah demikian tenang.

 "Apakah engkau takut setanlah yang mengganggunya?" tanya Aminah.

 Halimah mengangguk,

 "Itulah sebenarnya yang membuatku khawatir sehingga cepat-cepat mengembalikannya kepadamu."

 Aminah menarik napas.

 "Demi Allah," katanya,

 "Setan tidak akan mendapatkan jalan untuk masuk ke dalam jiwa Muhammad. Sesungguhnya, anakku akan menjadi orang besar di kemudian hari. Ketika aku mengandungnya, aku melihat sinar keluar dari perutku. Dengan sinar tersebut aku bisa melihat istana-istana Busra di Syam menjadi terang-benderang.

Demi Allah, aku belum pernah melihat orang mengandung yang lebih ringan dan lebih mudah seperti yang kurasakan. Ketika aku melahirkannya, ia meletakkan tangannya di tanah dan kepalanya menghadap ke langit."

 

Halimah mendengar semua itu dengan takjub. Aminah menyentuh tangan Halimah dan berkata lembut,

 

"Biarkan ia bersamamu dan pulanglah dengan tenang."

 Muhammad kecil pun kembali dibawa pulang. Namun, lagi-lagi terjadi sebuah peristiwa yang akhirnya membuat Halimah benar-benar kawatir dan mengembalikan Muhammad kepada ibunya.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد

 Orang-Orang Habasyah

 "Kak, tunggu!" seru Muhammad sambil berlari menuruni bukit. Saat itu, usia Muhammad sudah 5 tahun. Ia sedang berlari mengejar saudara-saudaranya, yaitu anak-anak Halimah. Mereka sedang menggembala kambing.

 "Ayo Muhammad kejar kami kalau bisa!" ujar Syaima, anak perempuan sulung Halimah sambil tertawa.

 Anak-anak itu terus bermain. Diam-diam, ada beberapa orang Nasrani dari Habasyah sedang memerhatikan mereka.

 "Lihat, Kak! Itu Ibu datang!" seru Muhammad.

 Anak-anak menoleh. Mereka memekik senang melihat Halimah datang menjemput.

Namun, wajah Halimah tampak khawatir. Ia mencurigai beberapa bayangan yang sedang mengintai sambil berbisik-bisik di kejauhan. Hatinya makin berdebar ketika orang-orang Habasyah itu datang mendekat. Tanpa memedulikan dirinya, mereka langsung mendekati Muhammad.

 "Paman mau apa?" tanya Muhammad.

 "Berbaliklah, Nak! Kami ingin melihat punggungmu!" perintah salah seorang dari mereka.

 Muhammad membalikkan badan, lalu orang-orang Habasyah itu saling pandang dengan wajah terkejut. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka berbalik ke tempat semula dan kembali berunding berbisik-bisik.

 "Kalian bermainlah lagi, Ibu akan mencari tahu apa yang mereka bicarakan!" kata Halimah kepada Muhammad dan saudara-saudaranya.

 Diam-diam, Halimah mendekati tempat orang-orang Habasyah itu berada dan terkejut mendengar apa yang mereka katakan,

 

"Kita harus merampas anak ini dan membawanya kepada raja di negeri kita. Kita telah mengetahui seluk beluk tentang dia! Ada tanda di punggungnya yang meramalkan anak ini kelak akan menjadi orang besar."

 Diam-diam, Halimah menjauh,

 "Aku harus melarikan Muhammad dari mereka sekarang juga!"

 

Tanda-Tanda Rasul Terakhir pada Injil

 Orang-orang Nasrani Habasyah itu tahu bahwa seorang Rasul terakhir akan dibangkitkan dan mereka diperintahkan mengikutinya seperti yang tertera pada Injil di bagian Kitab Ulangan (18): 15-22,

"Bahwa seorang Nabi di antara kamu, dari antara segala saudaramu dan yang seperti aku ini, yaitu akan dibangkitkan oleh Tuhan Allah-mu bagi kamu, maka dia haruslah kamu dengar."

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد

 

Muhammad Menghilang

 Halimah cepat-cepat mengajak Muhammad pergi, namun dari kejauhan orang-orang Habasyah itu terlihat bergegas mengikuti mereka. Untunglah Halimah mengenal daerah itu dengan baik, sehingga mereka bisa melepaskan diri dari kejaran orang-orang Habasyah walaupun dengan susah payah.

 Tidak berapa lama kemudian, Halimah berkemas menyiapkan Muhammad untuk segera kembali ke Mekah.

Sedih sekali Muhammad harus berpisah dengan saudara-saudaranya. Syaima, Unaisah, dan Abdullah.

 "Muhammad, jangan lupakan kami ya?" pinta Syaima dengan mata berkaca-kaca.

 Muhammad mengangguk sambil memeluk mereka satu persatu. Kemudian, berangkatlah Muhammad meninggalkan dusun Bani Sa'ad dengan semua kenangan indah yang tidak akan pernah hilang dari benaknya seumur hidup.

 Halimah mengelus kepala Muhammad penuh sayang,

"Bergembiralah, Muhammad. Engkau akan berjumpa dengan ibu dan kakekmu."

 Mekah pada malam hari sangat ramai ketika mereka tiba. Saat melalui  kerumunan orang itulah, Muhammad terpisah dan hilang. Halimah kebingungan. Ia takut orang-orang Habasyah itu diam-diam masih mengikuti mereka dan mengambil kesempatan ini untuk menculik Muhammad.

 Sambil menangis, Halimah mendatangi Abdul Muthalib, "Sungguh, pada malam ini, aku datang dengan Muhammad, namun ketika aku melewati Mekah Atas, ia menghilang dariku. Demi Allah, aku tidak tahu di mana kini ia berada."

 Setelah memerintahkan orang untuk mencari, Abdul Muthalib berdiri di samping Ka'bah, lalu berdoa kepada Allah agar Dia mengembalikan Muhammad kepadanya.

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد

 

Bagian 12   |   Bagian 14

KISAH RASULULLAH ﷺ Bagian 12

 

KISAH RASULULLAH ﷺ

 Bagian 12

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

 Muhammad Kembali Ke Dusun

 Halimah dan suaminya mengembalikan Muhammad kepada Aminah. Alangkah bahagianya Aminah bertemu lagi dengan putra tunggalnya itu.

 "Lihat! Kini engkau tumbuh menjadi anak yang tegap dan sehat!" ujar Aminah.

 Aminah memandang Halimah dan suaminya dengan mata berbinar-binar penuh rasa terimakasih," Kalian telah merawat Muhammad dengan baik, bagaimana aku harus berterimakasih?"

 Halimah dan suaminya berpandangan dengan gelisah. Sebenarnya mereka merasa berat berpisah dengan Muhammad. Mereka amat menyayangi anak itu. Selain itu, sejak Muhammad datang, kehidupan mereka dipenuhi keberkahan.

 "Kami cuma berharap andaikan saja engkau sudi membiarkan anak ini tetap bersama kami hingga menjadi besar. Sebab, aku khawatir ia terserang penyakit menular yang kudengar kini sedang mewabah di Mekah," pinta Halimah.

 Aminah menyadari bahwa yang mereka pinta dan katakan ada benarnya, tetapi hatinya bimbang karena hampir tak sanggup berpisah lagi dengan putranya. Ketika, Abdul Muthalib datang. Bangga sekali ia melihat pertumbuhan cucunya yang begitu bagus di daerah pedalaman, maka ia berkata:

 "Aku ingin Muhammad kembali ke Dusun Bani Sa'ad sampai ia berusia lima tahun," kata Abdul Muthalib, "agar ia di situ belajar berkata-kata dan telinganya terbiasa mendengarkan bahasa Arab yang murni dengan fasih pula."

 Aminah mengerti bahwa ia harus kembali melepas Muhammad demi masa depan putranya sendiri.

 "Beri aku waktu beberapa hari bersama putraku, setelah itu bolehlah kalian membawanya kembali," kata Aminah.

 Akhirnya, Muhammad pun dibawa kembali ke dusun Bani Sa'ad. Namun, di sana ia mengalami sebuah peristiwa yang sangat mengguncangkan.

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد

Pembelahan Dada

Peristiwa itu terjadi tidak lama setelah keluarga Halimah kembali ke pedalaman. Saat itu umur Muhammad belum lagi genap tiga tahun.

Hari itu, Muhammad kecil ikut menggembalakan kambing bersama saudara-saudaranya. Tiba-tiba salah seorang putra Halimah datang berlari-lari sambil menangis.

 "Ada apa?" Tanya Halimah dan suaminya panik.

 "Saudaraku yang dari Quraisy itu! Dia diambil oleh seorang laki-laki berbaju putih. Dia dibaringkan. Perutnya dibelah sambil dibalik-balikkan!"

 Halimah dan Harits segera berlari mencari Muhammad. Mereka menemukan anak itu sedang sendiri. Wajah Muhammad pucat pasi. Halimah dan suaminya memperhatikan wajah Muhammad baik-baik.

 "Apa yang terjadi padamu, Nak?" tanya mereka.

 "Aku didatangi oleh seorang laki-laki berpakaian putih. Aku dibaringkan lalu perutku dibedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Aku tak tahu apa yang mereka cari."

 Tanpa bertanya lagi Halimah segera membawa Muhammad pulang. Hatinya dipenuhi kecemasan.

 "Aku takut Muhammad didatangi dan digoda oleh jin" kata Halimah kepada suaminya.

 "Lebih baik kita membawanya kembali ke Mekah," jawab Harits

 

Bagian 11   |   Bagian 13

Minggu, 14 Februari 2021

KISAH RASULULLAH ﷺ Bagian 11


Halimah


Ketika Halimah dan Harits kembali ke rombongan, mereka melihat semua kawan mereka telah mendapatkan bayi untuk dibawa pulang dan disusui.


Melihat itu, Halimah berkata kepada suaminya, 

"Demi Allah, aku tak ingin mereka melihatku pulang tanpa membawa bayi. Demi Allah, aku akan pergi kepada anak yatim itu dan mengambilnya."


"Tidak salah kalau engkau mau melakukannya. Semoga Allah memberi kita keberkahan melalui anak yatim tersebut."


Akhirnya Halimah dan suaminya kembali menemui Aminah dan membawa Muhammad ke dusun mereka. Aminah melepas bayinya itu dengan perasaan lega bercampur sedih. Lega karena akhirnya ada yang mengasuh Muhammad, sedih karena harus berpisah dengannya selama dua tahun ke depan.


"Pergilah, Nak. Ibu menunggumu di sini," bisik Aminah dengan pipi yang hangat dialiri air mata.


Tatkala menggendong Muhammad, Halimah keheranan, "Aku tidak merasa repot membawanya, seakan-akan tidak bertambah beban."


Kemudian, Halimah menyusui Muhammad.


"Lihat, bayi ini menyusu dengan lahap," kata Halimah kepada suaminya.


Setelah menyusui Muhammad, Halimah menyusui bayinya sendiri. Bayi itu juga menyusu dengan lahap. Setelah itu, Muhammad dan bayi Halimah tertidur dengan lelap.


"Anak kita tidur dengan lelap," bisik Halimah kepada suaminya, "padahal, sebelumnya kita hampir tidak bisa tidur karena ia rewel terus sepanjang malam."


Malam itu, keduanya bertambah heran karena unta tua mereka ternyata kini menghasilkan susu.


"Engkau tahu, Halimah. Sebelum ini unta tua kita tidak menghasilkan susu setetes pun," gumam Harits.


Suami istri itu meminum air susu unta sampai kenyang.


"Malam ini benar-benar malam yang indah, " kata Halimah kepada Harits, "bayi kita tertidur lelap dan kita pun bisa beristirahat dengan perut kenyang."


"Demi Allah, tahukah engkau Halimah, engkau telah mengambil anak yang penuh berkah."


"Demi Allah, aku pun berharap demikian."


Kebanggaan Rasulullah


Lingkungan di Bani Sa'ad benar-benar sangat murni. Kelak Rasulullah pun dapat berkata dengan bangga, "Aku adalah keturunan Arab yang paling tulen. Sebab aku anak suku Quraisy yang menyusui di Bani Sa'ad bin Bakr."


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد


Keberkahan


Keberkahan yang dibawa Muhammad kecil tidak berhenti sampai di situ. 

Ketika dalam perjalanan kembali ke dusun Bani Sa'ad, terjadi hal yang mengherankan.


"Suamiku, tidakkah engkau melihat hal yang aneh pada keledai tungganganku?" tanya Halimah.


"Saat kita pergi, keledai ini berjalan pelan sekali," Harits menanggapi, "tetapi, kini ia dapat berjalan cepat seolah tak kenal lelah. Padahal, beban yang dibawanya cukup berat."


Keledai itu berjalan cukup cepat sehingga bisa menyusul dan melewati rombongan wanita Bani Sa'ad lainnya yang telah berjalan lebih dulu.


"Halimah putri Abu Dhu'aibi!" panggil para wanita itu keheranan, "tunggulah kami! Bukankah ini keledai yang engkau tunggangi saat kita pergi?"


"Demi Allah, begitulah," balas Halimah, "ini memang keledaiku yang dulu."


"Demi Allah, keledaimu itu kini bertambah perkasa!"


Ketika tiba di rumah, Halimah dan Harits tambah terkejut.


"Sepetak tanah kita!" bisik Halimah tak percaya.


"Sepetak tanah kita ini jadi begitu hijau dan subur! Padahal, saat kita berangkat, tak ada sepetak tanah pun yang lebih gersang dari ini!"


"Domba-domba juga!" seru Harits, "domba domba kita jadi gemuk dan susunya penuh. Kini kita dapat memerah dan meminum susu mereka setiap hari."


Begitulah keberkahan yang mereka terima selama mengasuh Muhammad. Namun, dua tahun pun berlalu, kini tiba saatnya mengembalikan Muhammad kepada ibunya.


Bagian 10   |   Bagian 12

12 Rabiul Awal Kelahiran dan Wafat Rasullah

12 Rabiul Awal diperingati sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad Rasulullah SAW, nabi terakhir yang menyampaikan risalah kepada ummat manusia...